Anak saya pernah bertanya, “Yah, kenapa matahari keluarnya siang hari, sedangkan bulan keluarnya malam hari.“
Saya langsung berpikir keras mencari jawabannya saat itu, sebab tidak mungkin saya menjawab dengan teori sistem orbit tata surya, karena anak saya masih berusia 5 tahun.
Akhirnya saya menemukan jawabannya, “Begini, Nak. Matahari dan bulan itu sahabat dekat. Karena sahabat, bulan dan matahari itu berbagi tugas. Tugas bulan bercahaya malam hari, sedangkan matahari bersinar siang hari. Seperti ayah dan ibu yang saling berbagi tugas.”
Anak saya mengangguk senang. Ini tandanya dia paham dan mengerti. Rasa penasarannya sudah terpenuhi. Apakah ini tidak membodohi anak? Tentu saja tidak, sebab pada usia 5 tahun, anak belum bernalar ilmiah, tetapi baru bernalar pada tahap logika dan moral. Maka, dengan menerangkan logika dan moral, anak mampu memahaminya.
Di sinilah, jawaban yang tepat atas berbagai pertanyaan yang diajukan anak, harus diberikan. Karena anak yang suka bertanya adalah anak yang cerdas, maka orang-tuanya dituntut untuk bisa menjawab dengan tepat. Berikut ini cara yang bisa dilakukan orang tua agar bisa menjawab pertanyaan anak dengan tepat.
Pertama, jawaban berdasarkan penalaran logika. Saat anak bertanya, maka gunakan untuk penalaran ini untuk mencari jawabannya. Misal, jika anak bertanya, kenapa ayah suka makan bakso. Maka orang tua bisa menjawab karena bakso rasanya enak. Anak makan dengan lahap juga karena enak, maka ayah juga suka bakso karena rasanya enak. Logika rasa enak dijadikan dasar dalam menjawab pertanyaan ini, sehingga anak-anak akan memahami bahwa makanan yang disukai banyak orang itu karena rasa makanyannya enak.
Kedua, jawaban berdasarkan penalaran moral. Pertanyaan diukur berdasarkan pada nalar moral tentang baik dan buruknya suatu perbuatan. Untuk itu, misal, jika anak bertanya kenapa kita tidak boleh nakal? Nalar moral bisa digunakan, bahwa kita tidak boleh nakal, karena saat dinakali oleh anak lain, kita sendiri tidak suka. Maka, kita jangan nakal, karena nakal tidak disukai oleh banyak orang.
Ketiga, jawaban berdasarkan pengalaman. Pengalaman bisa menjadi salah satu alternatif jawaban atas pertanyaan yang diajukan anak. Misal, anak bertanya kenapa banyak orang suka bermain di pantai? Maka kita bisa menjawabnya dengan cerita pengalaman bermain atau tamasya di pantai yang tidak terlupakan, karena berkesan.
Keempat, jawaban berdasarkan ilmu pengethuan sederhana. Ilmu pengetahuan juga bisa digunakan sebagai landasan dalam menjawab pertanyaan anak. Misal, anak bertanya, kenapa tumbuhan itu berbuah. Maka kita bisa menjelaskan mekanismenya secara saintifik dari kenyataan sains proses berbuahnya suatu tanaman.
Dengan keempat cara ini,orang tua tidak usah bingung saat anaknya bertanya, karena melalui keempat dasar ini orang tua bisa menjawab pertanyaan anak-anak dengan tepat dan memuaskan anak-anak. (Heru Kurniawan, pengajar Pendidikan Anak Usia Dini di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto)